nasi goreng

Mengguncang Mitos Diet Studi Sains Umsida Membandingkan Kalori Nasi Goreng Beras Merah dan Putih

ipa.umsida.ac.id — Nasi goreng sering dicap sebagai menu “berat” bagi pengendalian berat badan. Namun riset Dinda Tia Tinara bersama Septi Budi Sartika dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menghadirkan perspektif sains yang lebih presisi: menghitung dan membandingkan kalori nasi goreng beras putih vs beras merah melalui studi literatur yang dilengkapi perhitungan kalori berbasis laboratorium.

Temuan utamanya mengejutkan: pada porsi 150 gram, nasi goreng beras merah tercatat 115,32 kkal, hanya sedikit lebih rendah dari nasi goreng beras putih 115,56 kkal selisih tipis, tetapi beras merah tetap dinilai unggul dari sisi nilai gizi, terutama karena karbohidrat kompleks dan kaitannya dengan regulasi energi.

Kalori Nasi Goreng dalam Perspektif Sains Mengapa Perlu Diukur Bukan Ditebak?

Di Indonesia, nasi goreng bukan sekadar makanan; ia bagian dari budaya makan sehari-hari.

Penelitian ini menegaskan popularitas nasi goreng datang dari rasa yang gurih sekaligus penyajiannya yang praktis, dari pedagang kaki lima hingga restoran.

Namun popularitas itu dibarengi reputasi kurang bersahabat bagi diet karena proses menggoreng dan tambahan lauk dapat menaikkan total energi.

Dalam artikel ini disebutkan bahwa satu porsi nasi goreng dapat berada pada rentang 228–400 kalori, bergantung pada bahan tambahan.

Riset juga menampilkan contoh sederhana yang menunjukkan betapa mudah angka kalori “melejit” tanpa disadari.

Dalam salah satu rujukan yang dicantumkan penulis, satu sendok nasi goreng (50 gram) diperkirakan sekitar 86 kkal, tetapi angka ini bisa berubah karena jenis beras, minyak, serta tambahan ayam/seafood/sayur/telur.

Artinya, label “tinggi kalori” atau “rendah kalori” sebetulnya tidak cukup jika tidak dibuktikan dengan pengukuran berbasis data.

Di titik itulah riset ini mengambil posisi: bukan melarang nasi goreng, melainkan menawarkan inovasi yang bisa diuji mengganti beras putih dengan beras merah sebagai strategi kuliner “lebih sehat”.

Penulis menekankan beras berwarna (termasuk beras merah) mengandung senyawa antioksidan seperti antosianin/proantosianidin serta mineral penting (Fe, Zn, Ca, Cu, Mg) yang membuatnya lebih bernutrisi dibanding beras putih.

Dari sisi kebaruan, penulis menyatakan penelitian ini membawa sudut pandang yang jarang dibahas: menjadikan beras merah sebagai bahan utama untuk menghasilkan nasi goreng yang “low-calorie and nutritionally rich”, selaras dengan kebutuhan diet modern.

Metode Riset Membaca Kalori dari Dua Jalur Literatur dan Laboratorium

Penelitian ini memakai kombinasi literature study dan laboratory study. Studi literatur dilakukan melalui pengumpulan informasi dari buku, artikel, jurnal, dan sumber ilmiah lain; sedangkan studi laboratorium dilakukan dengan uji/perhitungan parameter untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Fokus masalahnya sangat spesifik: mengidentifikasi sekaligus membandingkan nasi goreng beras merah dan nasi goreng biasa untuk mengetahui varian mana yang lebih rendah kalorinya.

Ini penting untuk konteks sains, karena “lebih sehat” seharusnya tidak berhenti pada persepsi, tetapi masuk ke komposisi makronutrien (protein, lemak, karbohidrat) serta total kalori.

Peneliti menyajikan dua sumber pembanding utama:

1. Data komposisi dari sumber literatur (FatSecret) yang menampilkan perbandingan nasi goreng biasa dan nasi goreng beras merah.

Di sana, total kalori per 100 gram tercatat 165,51 kkal untuk nasi goreng beras putih dan 109,37 kkal untuk nasi goreng beras merah.

2. Data perhitungan berbasis laboratorium yang dilakukan pada porsi 150 gram. Dalam tabel laboratorium, total kalori nasi goreng beras putih tercatat 115,56 kkal, sedangkan nasi goreng beras merah 115,32 kkal.

Di bagian hasil, penulis menuliskan kalimat langsung yang menjadi inti berita sains ini: “Laboratory findings reveal that fried rice made from brown rice contains 115.32 kcal per 150 grams, slightly lower than the 115.56 kcal found in fried rice made from white rice.”

Dengan dua jalur data tersebut, riset ini mengajarkan satu hal yang sering luput: angka kalori bisa berbeda tergantung basis data, ukuran porsi, dan parameter pengukuran.

Maka, yang paling penting bukan hanya “siapa lebih rendah”, tetapi bagaimana sains menjelaskan komposisinya.

Temuan Selisih Kalori Tipis Tetapi Keunggulan Gizi Beras Merah Tetap Kuat

Jika hanya melihat angka total kalori laboratorium, selisihnya memang sangat kecil: 115,56 kkal vs 115,32 kkal untuk porsi 150 gram.

Penulis menegaskan selisih kecil ini menunjukkan nasi goreng beras merah tetap dapat menyediakan energi sekaligus menjaga keseimbangan kalori.

Namun kekuatan riset ini bukan pada sensasi “beda kalori besar”, melainkan pada penjelasan gizi yang lebih menyeluruh.

Penulis menunjukkan bahwa beras merah memiliki karakteristik karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat.

Efeknya: energi dilepas lebih stabil, membantu menjaga gula darah tidak cepat naik. Dalam narasi riset, ini dikaitkan dengan glycemic index yang lebih rendah dan serat yang tinggi, sehingga memberi rasa kenyang lebih lama.

Penelitian juga menyebutkan bahwa secara umum nasi goreng beras merah menawarkan manfaat kesehatan yang membuatnya dinilai sebagai pilihan yang lebih baik untuk mendukung fungsi tubuh, dengan kombinasi lemak yang terkontrol dan karbohidrat kompleks.

Bahkan riset menyinggung potensi beras merah dalam konteks kesehatan usus melalui SCFA (short-chain fatty acids) yang berkaitan dengan fermentasi serat oleh mikrobiota.

Kalimat langsung lain yang memperkuat pesan ilmiah sekaligus bernilai edukatif untuk pembaca awam adalah bagian kesimpulan penulis: “This study concludes that fried rice made from brown rice has a slightly lower calorie content than white rice fried rice.”

Penulis lalu menekankan poin penting: beras merah memiliki lemak lebih rendah dan karbohidrat kompleks lebih tinggi yang mendukung pelepasan energi berkelanjutan tanpa lonjakan gula darah.

Dari sisi implikasi, riset ini memposisikan nasi goreng beras merah sebagai inovasi kuliner yang relevan untuk program diet modern khususnya yang menargetkan manajemen berat badan dan pencegahan risiko penyakit metabolik.

Namun penelitian ini juga tegas menyebut batasannya: lingkupnya hanya membandingkan dua jenis nasi goreng dan parameter yang diamati fokus pada kalori, protein, lemak, dan karbohidrat.

Faktor lain seperti variasi bumbu dan metode memasak belum ditelaah detail, dan uji organoleptik (rasa/tekstur) belum dilakukan secara luas.

Karena itu, penulis merekomendasikan riset lanjutan yang mengeksplorasi variasi nasi goreng beras merah dan metode memasak berbeda, bahkan studi jangka panjang/klinis untuk menilai manfaat metaboliknya.

Dalam perspektif sains kalori nasi goreng beras merah, riset penulis Umsida ini memberi pelajaran yang tajam: “lebih sehat” tidak selalu berarti “beda kalori jauh”.

Data laboratorium menunjukkan nasi goreng beras merah 115,32 kkal dan nasi goreng beras putih 115,56 kkal per 150 gram selisih tipis tetapi terukur.

Keunggulan beras merah lebih kuat pada sisi kualitas gizi: karbohidrat kompleks yang mendukung energi lebih stabil dan pengendalian gula darah, serta potensi manfaat serat untuk kesehatan jangka panjang.

Bagi pembaca website IPA Umsida, penelitian ini memperlihatkan bagaimana sains bekerja pada hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari  membaca makanan populer dengan data, bukan prasangka serta membuka ruang inovasi pangan yang tetap relevan dengan kebutuhan kesehatan modern.

Penulis: Bima Satria D. W
Editor: Nabila Wulyandini

Bertita Terkini

media pembelajaran
Revolusioner Inovasi Manajemen Media Pembelajaran yang Membuat Kelas Lebih Hidup dan Terukur
December 26, 2025By
Etno STEM
Terbukti Efektif! Pembelajaran IPA Berbasis Etno STEM Latih Berpikir Analisis Lewat Proyek Tanggulangin
December 23, 2025By
Hukum Stokes
Dari Awan hingga Tetesan Hujan: Rahasia Pembentukan Cuaca Melalui Hukum Stokes
December 16, 2025By
Hidrolik
Kreatif, Inovatif, Scientis: Karya Mahasiswa Pendidikan IPA Merancang Alat Hidrolik Edukatif Fluida
November 28, 2025By
gelombang
Mengungkap Rahasia Sifat Gelombang: Dari Difraksi hingga Interferensi yang Menakjubkan di Alam Sekitar
November 18, 2025By
hima ipa
Tonggak Awal Kepemimpinan Hima IPA 2025/2026 FPIP Gelar Pelantikan Organisasi Mahasiswa Hima Ipa
November 7, 2025By
Fenomena Kapilaritas
Memahami Fenomena Kapilaritas dalam Ilmu IPA, Kenapa Air Bisa Mengalir ke Atas? 
October 17, 2025By
puskesmas wonoayu
Puskesmas Wonoayu Gelar Seminar Kecil Bertema “Say No To Pernikahan Dini” Bersama Mahasiswa Umsida
October 14, 2025By

Prestasi

mahasiswa
Keterlibatan Aktif Mahasiswa Pendidikan IPA Umsida: Inovasi Drytech Batik Ecoprint Berbasis IoT di Ajang PKM
September 5, 2025By
wisudawan berprestasi
Wisudawan Berprestasi dari Prodi pendidikan IPA yang Menjadi Inspirasi dengan Mengatur Waktu Antara Kuliah, Kerja, dan Organisasi
August 5, 2025By
DaBeLCy
Dosen IPA Umsida Ikuti Ujian Tertutup Disertasi dengan Model Pembelajaran DaBeLCy untuk Penalaran Ilmiah
July 25, 2025By
IPA
Dosen IPA Umsida Lolos Hibah RisetMu dengan Penelitian Integrasi Budaya Lokal dan Isu Sosial Ilmiah dalam Pembelajaran IPA
June 16, 2025By
Noly Shofiyah
Noly Shofiyah, Dosen IPA Umsida, Torehkan Prestasi di Publikasi Ilmiah Internasional
November 19, 2024By
Mahasiswa Pendidikan IPA Berhasil Lulus 3,5 Tahun
August 22, 2024By
Wisuda 43 2024: 4 Mahasiswa Pendidikan IPA Raih Predikat Wisudawan Berprestasi
July 1, 2024By
Kembali Ukir Prestasi, HIMA Pendidikan IPA Berhasil Lolos Pendanaan PPK Ormawa 2024
May 31, 2024By