Literasi Sains

Literasi Sains dan Miskonsepsi yang Sering Muncul Pada Tahun 2025/2026

ipa.umsida.ac.id — Fenomena literasi sains dan miskonsepsi masih sering ditemui oleh guru dan peserta didik pada pembelajaran IPA di berbagai jenjang sekolah di Indonesia sepanjang tahun ajaran 2025/2026.

Masalah yang muncul bukan sekadar salah menjawab soal, melainkan kekeliruan konsep dasar yang bertahan lama dalam cara berpikir di kelas.

Kondisi ini terjadi karena pemahaman awal peserta didik kerap dibentuk oleh pengalaman sehari-hari, informasi populer, serta cara penyajian materi yang terlalu berfokus pada hafalan.

Dampaknya terlihat pada menurunnya kemampuan menalar, menjelaskan gejala alam, dan mengambil keputusan berbasis bukti, sementara perbaikannya dapat dilakukan melalui penguatan literasi sains, pembelajaran inkuiri, serta asesmen diagnostik yang konsisten.

Mengapa miskonsepsi mudah bertahan di ruang kelas

Miskonsepsi berbeda dari “tidak tahu”. Peserta didik yang tidak tahu biasanya ragu, sementara peserta didik yang memiliki miskonsepsi sering yakin pada jawaban yang keliru karena konsep itu terasa masuk akal. Sumbernya beragam.

Pertama, pengalaman sehari-hari yang menipu. Contohnya pada topik gaya dan gerak: benda yang bergerak kemudian berhenti sering dianggap “kehabisan gaya”, padahal yang dominan adalah gaya gesek dan tidak harus ada gaya searah gerak agar benda tetap melaju.

Kedua, bahasa sehari-hari yang membentuk pemahaman keliru, seperti kata “panas” yang dianggap sebagai zat yang berpindah, bukan energi yang berpindah karena perbedaan suhu.

Ketiga, visual atau analogi yang kurang tepat. Diagram sederhana tata surya, misalnya, dapat membuat peserta didik mengira orbit planet berbentuk lingkaran sempurna, jarak antarplanet seragam, atau matahari “diam mutlak”.

Keempat, pembelajaran yang terlalu cepat mengejar target materi. Saat peserta didik belum sempat memeriksa nalar sendiri melalui pengamatan dan percobaan, konsep baru hanya menempel di permukaan.

Kelima, informasi digital yang tidak terkurasi. Konten sains populer sangat membantu, tetapi potongan informasi tanpa konteks metode ilmiah sering memicu simpulan keliru.

Di kelas, miskonsepsi paling sering muncul pada konsep yang abstrak dan tidak terlihat langsung, seperti listrik, partikel materi, kalor, reaksi kimia, serta sistem tubuh.

Pada listrik, peserta didik kerap menganggap arus “habis” setelah melewati lampu, padahal arus yang sama mengalir dalam rangkaian seri.

Pada materi, peserta didik dapat mengira air mendidih berarti air “hilang”, bukan berubah fase menjadi uap.

Pada reaksi kimia, perubahan warna kadang dianggap sekadar “campur” biasa, bukan terbentuknya zat baru. Jika tidak ditangani, pola keliru ini akan terbawa ke topik lanjutan.

Tanda miskonsepsi dan dampaknya pada kemampuan bernalar

Literasi Sains

Miskonsepsi biasanya muncul melalui pola jawaban yang konsisten salah, alasan yang berulang, dan ketidakmampuan menjelaskan konsep dengan kata-kata sendiri.

Ciri paling kuat terlihat saat peserta didik mampu mengerjakan soal rutin, tetapi gagal pada soal yang menuntut pemahaman.

Misalnya, dapat menghafal rumus massa jenis, namun keliru menjelaskan mengapa kapal baja bisa mengapung.

Atau dapat menghitung tekanan, tetapi tidak mampu mengaitkan konsep tekanan dengan luas bidang sentuh pada peristiwa sehari-hari.

Dampaknya luas. Pertama, kemampuan pemecahan masalah melemah karena peserta didik mengandalkan prosedur, bukan konsep.

Kedua, terjadi kesalahan penalaran sebab-akibat. Peserta didik bisa menyimpulkan bahwa “benda berat pasti jatuh lebih cepat” jika tidak pernah mengalami konflik kognitif melalui percobaan terukur.

Ketiga, keterampilan literasi sains turun karena peserta didik sulit membaca informasi berbasis data, menafsirkan grafik, atau membedakan klaim dan bukti.

Keempat, muncul rasa tidak percaya diri terhadap sains, karena konsep terasa “misterius” dan jauh dari pengalaman.

Agar miskonsepsi terdeteksi, asesmen diagnostik perlu dilakukan sejak awal, bukan menunggu ulangan akhir.

Bentuknya tidak harus rumit. Guru dapat memakai pertanyaan prediksi sebelum praktikum, soal beralasan singkat, diskusi argumentatif berbasis bukti, peta konsep, atau kuis dua tingkat yang meminta jawaban dan alasan.

Dari situ, guru dapat memetakan bagian konsep yang rapuh: apakah ada salah paham istilah, salah membaca grafik, atau salah menautkan sebab-akibat.

Pemetaan ini penting karena perbaikan miskonsepsi tidak efektif jika hanya menambah latihan soal tanpa memperbaiki fondasi berpikir.

Strategi literasi sains untuk meluruskan konsep secara berkelanjutan

Literasi Sains

Perbaikan miskonsepsi paling efektif ketika literasi sains diposisikan sebagai kebiasaan kelas, bukan program sesaat. Ada tiga jalur strategis yang dapat dipadukan.

Pertama, mengaktifkan pengetahuan awal secara terarah. Guru perlu memulai topik dengan pertanyaan pemantik yang membuat peserta didik mengungkap keyakinannya.

Setelah itu, buat ruang “konflik kognitif” yang aman melalui demonstrasi, data sederhana, atau simulasi.

Ketika hasil pengamatan bertentangan dengan keyakinan awal, peserta didik terdorong merevisi konsep.

Tahap ini perlu dipandu dengan diskusi yang menuntut alasan berbasis bukti, bukan sekadar “jawaban benar”.

Kedua, memperkuat praktik membaca dan menulis sains. Literasi sains tidak hanya eksperimen, tetapi juga kemampuan menafsirkan teks, tabel, dan grafik. Biasakan peserta didik merangkum hasil pengamatan, menuliskan klaim, menyertakan bukti, lalu menjelaskan penalaran.

Pola “klaim–bukti–alasan” melatih cara berpikir ilmiah sekaligus mengurangi miskonsepsi yang muncul dari asumsi.

Guru juga dapat melatih keterampilan evaluasi informasi digital: membandingkan dua sumber, memeriksa apakah klaim didukung data, serta memahami batasan eksperimen.

Ketiga, mempraktikkan asesmen formatif yang konsisten. Setelah konsep direvisi, peserta didik perlu menggunakannya pada konteks baru agar konsep menguat.

Kuis singkat, pertanyaan reflektif, atau tugas aplikasi di rumah dapat menjadi penguat. Jika miskonsepsi muncul kembali, itu sinyal bahwa konsep belum stabil.

Pada tahap ini, penggunaan model pembelajaran seperti inkuiri, 5E, atau pembelajaran berbasis masalah membantu karena menempatkan peserta didik sebagai penalar aktif, bukan penerima informasi.

Intinya, literasi sains yang baik bukan ditandai oleh banyaknya hafalan istilah, melainkan kemampuan menjelaskan fenomena secara masuk akal, memeriksa klaim dengan bukti, dan mengambil keputusan berbasis data.

Ketika budaya kelas bergerak ke arah itu, miskonsepsi tidak hilang seketika, tetapi dapat dikurangi secara sistematis dan berkelanjutan.

Bertita Terkini

lomba
Lomba Video Edukasi Sains HIMA Pendidikan IPA Umsida 2026
February 6, 2026By
yang Efektif
Strategi Pengembangan Laboratorium Sains yang Efektif Pada Tahun 2026
January 30, 2026By
Cuaca yang
Sains di Balik Cuaca yang Mendadak Berubah Pada Tahun 2026
January 27, 2026By
yang efektif
Inovasi Pembelajaran Sains di Era Digital untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan
January 23, 2026By
pendidikan ipa
Promotion to School Pendidikan IPA Umsida 2026 Sebagai Strategi Membangun Minat Siswa SMA
January 20, 2026By
Pembelajaran
Pembelajaran IPA Berbasis SCEL Research Hadir di UMSIDA
January 16, 2026By
literasi sains
Rendahnya Literasi Sains Pelajar Indonesia, Di Mana Letak Masalahnya?
January 13, 2026By
sains
Kenapa Pembelajaran Sains Tak Cukup Hanya Teori?
January 6, 2026By

Prestasi

mahasiswa
Keterlibatan Aktif Mahasiswa Pendidikan IPA Umsida: Inovasi Drytech Batik Ecoprint Berbasis IoT di Ajang PKM
September 5, 2025By
wisudawan berprestasi
Wisudawan Berprestasi dari Prodi pendidikan IPA yang Menjadi Inspirasi dengan Mengatur Waktu Antara Kuliah, Kerja, dan Organisasi
August 5, 2025By
DaBeLCy
Dosen IPA Umsida Ikuti Ujian Tertutup Disertasi dengan Model Pembelajaran DaBeLCy untuk Penalaran Ilmiah
July 25, 2025By
IPA
Dosen IPA Umsida Lolos Hibah RisetMu dengan Penelitian Integrasi Budaya Lokal dan Isu Sosial Ilmiah dalam Pembelajaran IPA
June 16, 2025By
Noly Shofiyah
Noly Shofiyah, Dosen IPA Umsida, Torehkan Prestasi di Publikasi Ilmiah Internasional
November 19, 2024By
Mahasiswa Pendidikan IPA Berhasil Lulus 3,5 Tahun
August 22, 2024By
Wisuda 43 2024: 4 Mahasiswa Pendidikan IPA Raih Predikat Wisudawan Berprestasi
July 1, 2024By
Kembali Ukir Prestasi, HIMA Pendidikan IPA Berhasil Lolos Pendanaan PPK Ormawa 2024
May 31, 2024By