ipa.umsida.ac.id — Program Studi Pendidikan IPA Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) terus mendorong penguatan literasi sains melalui pendekatan yang relevan dengan budaya digital.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan IPA Umsida melalui Lomba Science Education Video, ajang kreatif yang mengintegrasikan literasi sains dengan media sosial sebagai sarana edukasi modern.
Kegiatan ini dirancang untuk mendorong mahasiswa berpikir kritis terhadap sains sekaligus menyajikannya dalam bentuk video yang menarik, komunikatif, dan mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Di tengah banjir informasi digital, literasi sains tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menghafal konsep, tetapi juga kecakapan memilah fakta, memahami sebab-akibat, membaca data sederhana, dan mengaitkan pengetahuan dengan persoalan nyata di sekitar.
Salah satu panitia menegaskan bahwa lomba ini lahir dari kebutuhan menjadikan sains lebih “hidup” di ruang publik.
“Media sosial itu tidak harus isinya hiburan terus. Kalau kita bisa mengemas sains dengan gaya yang relevan, penonton bisa dapat manfaat tanpa merasa digurui,” ujarnya saat menjelaskan tujuan kegiatan.
Gagasan ini juga berangkat dari fenomena meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan generasi Z.
Platform digital yang selama ini didominasi konten cepat dan ringan dinilai memiliki potensi besar untuk dijadikan ruang edukasi, terutama dalam menyebarluaskan pengetahuan sains.
Karena itu, lomba ini diharapkan menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan budaya digital yang berkembang pesat di kalangan mahasiswa.
Sains sebagai Konten Edukatif yang Relevan di Era Digital
Lomba Science Education Video diselenggarakan sebagai respons terhadap tantangan literasi sains di era digital.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk mengemas konsep-konsep sains ke dalam video edukatif yang komunikatif, kreatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Konten yang baik tidak hanya “benar” secara konsep, tetapi juga mampu menjelaskan “mengapa” dan “bagaimana” dengan bahasa yang ringkas dan mudah ditangkap audiens.
Dalam proses penyusunan video, peserta dituntut menata alur berpikir ilmiah: memilih topik, merumuskan masalah, menyaring sumber referensi, hingga menyusun narasi yang runtut.
Aspek ini penting karena literasi sains bertumpu pada cara berpikir, bukan sekadar hasil akhir karya.
Selain menitikberatkan pemahaman konsep, lomba ini juga mendorong peserta mengaitkan materi sains dengan isu lingkungan dan permasalahan di sekitar masyarakat.
Seorang peserta menggambarkan tantangan yang mereka rasakan saat memproduksi konten edukasi.
“Kalau bikin video hiburan mungkin gampang, tapi kalau edukasi harus akurat. Kami harus cek konsepnya dulu, baru mikir cara penyajiannya biar tetap menarik,” katanya.
Menurutnya, proses riset sederhana sebelum produksi justru menjadi bagian paling penting karena menguji ketelitian dan tanggung jawab ilmiah.
Tujuan utama pelaksanaan lomba ini adalah mengintegrasikan literasi sains dalam bentuk penyajian modern berbasis media video.
Selain itu, kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta keterampilan komunikasi ilmiah mahasiswa.
Dengan menjadikan sains sebagai konten yang umum dijumpai di media sosial, diharapkan masyarakat, khususnya generasi muda, semakin terbiasa mengonsumsi informasi edukatif berbasis keilmuan, bukan sekadar mengikuti tren.
Konsep lomba yang menyesuaikan karakter generasi Z menjadi nilai tambah. Generasi ini dikenal aktif, ekspresif, dan kreatif dalam memanfaatkan media sosial.
Melalui lomba ini, mahasiswa didorong menjadikan sains tidak hanya sebagai bahan pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga sebagai konten edukasi publik yang menarik dan berdampak.
Dua Babak Seleksi dan Harapan Keberlanjutan Program

Pelaksanaan Lomba Science Education Video dilakukan melalui dua tahapan, yakni babak penyisihan dan babak final.
Babak penyisihan diselenggarakan secara daring (online) sehingga peserta lebih mudah mengirimkan karya.
Pendaftaran dibuka sejak 16 Desember 2025 dengan total lima tim mendaftar dan mengirim video terbaik mereka.
Dari seleksi penyisihan, tiga tim terbaik dinyatakan lolos ke babak final. Babak final kemudian diselenggarakan secara luring (offline) pada 31 Desember 2026 di Kampus 3 Umsida, Ruang 308.
Pada tahap final, peserta tidak hanya menayangkan video, tetapi juga mempresentasikan ide dan konsep sains yang melatarbelakangi pembuatan karya, sehingga proses berpikir ilmiahnya dapat diuji secara terbuka.
Seorang juri menekankan bahwa video edukasi harus kuat dari sisi konsep sekaligus kuat dari sisi komunikasi.
“Kami menilai bukan cuma editing atau visualnya. Konsep sainsnya harus tepat, argumennya jelas, dan pesannya sampai ke audiens,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa orisinalitas menjadi poin penting agar video tidak sekadar meniru tren, melainkan memiliki gagasan sendiri.
Proses penilaian mencakup dua aspek utama: kualitas isi sains dan kualitas konten video.
Secara rinci, aspek penilaian meliputi orisinalitas karya, kreativitas, ketepatan konsep sains, kualitas penyajian, serta efektivitas penyampaian pesan edukatif kepada audiens.
Sistem penilaian yang terstruktur ini bertujuan menjaga objektivitas sekaligus mendorong standar karya yang lebih tinggi.
Antusiasme peserta terlihat dari keseriusan dan kreativitas dalam setiap karya video yang dikirimkan.
Meski jumlah peserta masih terbatas, seluruh tim menunjukkan komitmen menghasilkan konten edukatif berkualitas.
“Yang penting bukan banyaknya peserta dulu, tetapi kualitas gerakan literasi sainsnya. Kalau konsisten, tahun depan bisa lebih luas,” ujar salah satu panitia.
Ke depan, Lomba Science Education Video diharapkan terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan jangkauan peserta lebih luas.
Jika pada pelaksanaan ini masih internal, kegiatan berikutnya dapat melibatkan lintas perguruan tinggi bahkan masyarakat umum.
Dengan perluasan tersebut, sains diharapkan semakin dikenal sebagai konten edukatif yang menarik di media sosial serta berkontribusi membangun masyarakat yang kritis, kreatif, dan berwawasan ilmiah.
Penulis: Ami Abdi
Editor: Nabila Wulyandini












![IMG-20250805-WA0010[2] wisudawan berprestasi](https://ipa.umsida.ac.id/wp-content/uploads/2025/08/IMG-20250805-WA00102-scaled-e1754440736916-150x150.jpg)





