literasi sains

Rendahnya Literasi Sains Pelajar Indonesia, Di Mana Letak Masalahnya?

ipa.umsida.ac.id — Di era banjir informasi, kemampuan “mengerti sains” tidak cukup sekadar hafal definisi. Pelajar perlu bisa membaca data sederhana, menilai klaim yang beredar, lalu mengambil keputusan yang masuk akal dalam kehidupan sehari-hari.

Masalahnya, capaian literasi sains kita masih sering tersandung dan ini bukan semata soal “anak kurang pintar”.

Riset berbasis studi kepustakaan di Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti (2022) memetakan titik-titik yang paling sering membuat literasi sains rendah, sekaligus alternatif solusinya.

Masalahnya Bukan Sekadar Nilai, Tapi Cara Pelajar Memahami Dunia

Kalau literasi sains rendah, dampaknya terasa di banyak hal mulai dari cara memahami isu kesehatan, lingkungan, sampai cara menilai informasi di media sosial. Karena literasi sains bukan cuma “nilai IPA”.

Riset ini merujuk definisi literasi sains sebagai kemampuan menerapkan pengetahuan untuk mengidentifikasi pertanyaan, membangun pengetahuan baru, menjelaskan secara ilmiah, dan mengambil kesimpulan berbasis bukti.

Bahasa sederhananya, pelajar bisa menghubungkan sains dengan masalah nyata dan membuktikan alasan di balik pendapatnya.

Indikator “tersandungnya” terlihat dari asesmen internasional. Dalam PISA 2018, skor sains Indonesia tercatat 396 dan berada di urutan 70 dari 78 negara.

Data di naskah juga menunjukkan tren panjang sejak 2000–2018 yang masih berada pada kategori rendah.

Bukan hanya PISA. TIMSS juga menggambarkan posisi yang belum kuat. Misalnya pada 2003 Indonesia berada di peringkat 35 dari 46 negara peserta dengan skor 411; pada 2007 berada di peringkat 36 dari 49 dengan skor 397.

Penting dicatat: riset ini menegaskan literasi sains berhubungan dengan prestasi belajar.

Ada rujukan bahwa literasi sains berpengaruh positif terhadap kemampuan kognitif, dan pembelajaran berbasis literasi sains dapat meningkatkan hasil belajar.

Artinya, ketika literasi sains lemah, pelajar bukan hanya kesulitan menjawab soal tetapi juga kesulitan memaknai pelajaran untuk hidupnya.

Kalimat kuncinya begini: kalau pembelajaran sains masih dominan “teori yang dihafal”, maka literasi sains akan sulit tumbuh karena pelajar tidak dilatih berpikir pakai sains.

Di Mana Letak Masalahnya?

Riset merangkum sejumlah penyebab utama rendahnya literasi sains. Daftarnya cukup tegas mulai penggunaan buku ajar yang belum tepat, miskonsepsi, pembelajaran yang tidak kontekstual, rendahnya kemampuan membaca, hingga faktor lingkungan belajar, infrastruktur, SDM, dan manajemen sekolah.

Agar tidak berhenti jadi daftar, mari turunkan ke bentuk yang mudah dibayangkan.

  1. Terlalu bergantung pada buku ajar

Dalam riset ini, ada rujukan yang menyebut buku pelajaran dipakai oleh mayoritas guru sains dan menyita mayoritas waktu pembelajaran.

Masalahnya, kalau proses belajar hanya mengandalkan teks, pelajaran mudah terasa “kering”.

Penulis menyatakan bahwa pembelajaran yang hanya mengandalkan buku ajar belum menyentuh pengalaman peserta didik, dan akibatnya pelajaran menjadi membosankan.

Berikut kutipan langsung yang relevan “Pengetahuan dan penerapan literasi sains yang hanya mengandalkan buku ajar… belum sepenuhnya menyentuh jiwa peserta didik”.

Kalau pelajar bosan, biasanya mereka hanya mengejar “selesai materi”, bukan paham.

  1. Miskonsepsi: pahamnya salah, tapi kerasa benar

Riset menjelaskan miskonsepsi sebagai kesalahan pemahaman ketika menghubungkan konsep baru dengan konsep yang sudah ada, sehingga terbentuk konsep yang salah.

Salah satu pemicunya dari tuntutan kurikulum yang banyak membuat guru cenderung memilih cara mengajar yang “materinya cepat habis”, dan ini bisa memicu miskonsepsi.

  1. Pembelajaran tidak kontekstual: sains terasa jauh dari hidup

Ini salah satu titik paling “menyakitkan”. Ketika pelajar tidak pernah melihat hubungan antara konsep IPA dan kehidupan sehari-hari, sains berubah jadi hafalan.

Riset menyebut banyak peserta didik tidak mampu mengaitkan pengetahuan sains dengan fenomena di dunia karena mereka tidak memperoleh pengalaman untuk mengaitkannya.

Kalimat langsung yang menohok ada di bagian ini “Penekanan pemahaman konsep dasar… tidak dikaitkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari”.

Jadi, “letak masalahnya” sering bukan di otak pelajar, tapi di pengalaman belajar yang kurang membumi.

  1. Rendahnya kemampuan membaca: sains sulit masuk kalau bacaan pun berat

Riset menuliskan bahwa salah satu kendala belajar sains adalah rendahnya kemampuan membaca dan memaknai bacaan.

Bahkan disebutkan hasil kajian UNESCO 2016 menunjukkan kebiasaan membaca di Indonesia tergolong sangat rendah.

Ini logis: sains itu penuh istilah, grafik, instruksi, dan penalaran. Kalau kemampuan membaca lemah, pelajar akan tersendat sejak awal bahkan sebelum masuk konsep.

  1. Faktor lingkungan, fasilitas, SDM, dan manajemen sekolah

Riset juga memasukkan faktor-faktor yang sering luput dibahas: iklim belajar, infrastruktur sekolah, sumber daya manusia, dan manajemen sekolah.

Intinya, literasi sains adalah hasil dari ekosistem. Guru bagus pun bisa kehabisan tenaga kalau sistem sekolah tidak mendukung.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Riset ini tidak berhenti di diagnosa. Ada daftar alternatif solusi yang disebut sudah/ perlu dilakukan pemangku kebijakan untuk menjawab tantangan PISA dan TIMSS.

Daftarnya jelas mulai Gerakan Literasi Sekolah, dana BOS, transformasi kepemimpinan sekolah, peningkatan kompetensi guru, perbaikan kurikulum, perbaikan buku ajar, AKM, dan penggunaan platform digital.

  1. Perkuat kebiasaan literasi, bukan sekadar tugas membaca

Gerakan literasi bukan pajangan. Kalau literasi sains mau naik, sekolah perlu membiasakan pelajar membaca informasi sains yang dekat dengan hidup sperti cuaca, pangan, kesehatan, lingkungan, teknologi sederhana. Ini sejalan dengan dorongan Gerakan Literasi Sekolah dalam daftar solusi riset.

Contoh: Tugas “cerita sains” menjelaskan fenomena di rumah (air mendidih, embun, karat) dengan alasan sederhana

  1. Praktik kepemimpinan sekolah yang benar-benar mengawal mutu belajar

Riset menyebut transformasi kepemimpinan sekolah sebagai salah satu solusi. Ini sinyal penting: literasi sains tidak akan naik kalau kepala sekolah hanya mengurus administrasi tanpa memimpin kualitas pembelajaran.

Contoh: Monitoring pembelajaran IPA apakah pelajar diajak mengaitkan konsep dengan fenomena?

  1. Kompetensi guru: dari “menyampaikan materi” ke “melatih cara berpikir”

Riset memasukkan peningkatan kompetensi guru sebagai langkah kunci. Di lapangan, ini berarti guru dilatih membuat pelajar:

  • bertanya (bukan hanya menjawab)
  • membuktikan (bukan hanya menyebut)
  • menghubungkan (bukan hanya menghafal)
  1. Rapikan kurikulum dan buku ajar: agar tidak mengejar habis materi

Riset menyoroti masalah buku ajar dan beban kurikulum yang bisa memicu miskonsepsi. Solusi yang disebut yaitu memperbaiki kurikulum dan memperbaiki buku ajar. Tujuannya sederhana: pelajar paham konsep inti, tidak sekadar “pernah lewat”.

  1. Gunakan AKM dan platform digital sebagai alat bantu, bukan tujuan

Dalam daftar solusi, riset menyebut Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan penggunaan platform digital.

Ini bisa jadi percepatan kalau dipakai benar: AKM untuk memotret kemampuan bernalar, platform digital untuk memperbanyak latihan dan contoh kontekstual.

Platform digital tidak otomatis menaikkan literasi sains kalau kontennya tetap hafalan. Yang dibutuhkan adalah konten yang menuntut pelajar menjelaskan “kenapa” dan “buktinya apa”.

Literasi sains pelajar Indonesia rendah bukan karena satu sebab tunggal.

Riset ini menunjukkan penyebabnya berlapis: pembelajaran terlalu bergantung pada buku ajar, muncul miskonsepsi karena pembelajaran dikejar target, sains tidak dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, kemampuan membaca yang masih lemah, hingga faktor iklim belajar, infrastruktur, SDM, dan manajemen sekolah.

Jalan keluarnya juga harus sistemik: membangun budaya literasi sekolah, memperkuat dukungan operasional dan kepemimpinan sekolah, menaikkan kompetensi guru, merapikan kurikulum dan buku ajar, serta memanfaatkan AKM dan platform digital secara tepat.

Penulis: Bima Satria D. W

Editor: Nabila Wulyandini

Bertita Terkini

sains
Kenapa Pembelajaran Sains Tak Cukup Hanya Teori?
January 6, 2026By
tumbuhan
Sering Dikira Pasif, Ternyata Tumbuhan Punya Sistem Gerak yang Super Kompleks!
January 2, 2026By
nasi goreng
Mengguncang Mitos Diet Studi Sains Umsida Membandingkan Kalori Nasi Goreng Beras Merah dan Putih
January 1, 2026By
media pembelajaran
Revolusioner Inovasi Manajemen Media Pembelajaran yang Membuat Kelas Lebih Hidup dan Terukur
December 26, 2025By
Etno STEM
Terbukti Efektif! Pembelajaran IPA Berbasis Etno STEM Latih Berpikir Analisis Lewat Proyek Tanggulangin
December 23, 2025By
Hukum Stokes
Dari Awan hingga Tetesan Hujan: Rahasia Pembentukan Cuaca Melalui Hukum Stokes
December 16, 2025By
Hidrolik
Kreatif, Inovatif, Scientis: Karya Mahasiswa Pendidikan IPA Merancang Alat Hidrolik Edukatif Fluida
November 28, 2025By
gelombang
Mengungkap Rahasia Sifat Gelombang: Dari Difraksi hingga Interferensi yang Menakjubkan di Alam Sekitar
November 18, 2025By

Prestasi

mahasiswa
Keterlibatan Aktif Mahasiswa Pendidikan IPA Umsida: Inovasi Drytech Batik Ecoprint Berbasis IoT di Ajang PKM
September 5, 2025By
wisudawan berprestasi
Wisudawan Berprestasi dari Prodi pendidikan IPA yang Menjadi Inspirasi dengan Mengatur Waktu Antara Kuliah, Kerja, dan Organisasi
August 5, 2025By
DaBeLCy
Dosen IPA Umsida Ikuti Ujian Tertutup Disertasi dengan Model Pembelajaran DaBeLCy untuk Penalaran Ilmiah
July 25, 2025By
IPA
Dosen IPA Umsida Lolos Hibah RisetMu dengan Penelitian Integrasi Budaya Lokal dan Isu Sosial Ilmiah dalam Pembelajaran IPA
June 16, 2025By
Noly Shofiyah
Noly Shofiyah, Dosen IPA Umsida, Torehkan Prestasi di Publikasi Ilmiah Internasional
November 19, 2024By
Mahasiswa Pendidikan IPA Berhasil Lulus 3,5 Tahun
August 22, 2024By
Wisuda 43 2024: 4 Mahasiswa Pendidikan IPA Raih Predikat Wisudawan Berprestasi
July 1, 2024By
Kembali Ukir Prestasi, HIMA Pendidikan IPA Berhasil Lolos Pendanaan PPK Ormawa 2024
May 31, 2024By