ipa.umsida.ac.id — Sains bukan sekadar pengetahuan, melainkan cara berpikir. Karena itu, belajar sains idealnya tidak berhenti pada “mengetahui”, tetapi sampai “mampu melakukan” dari mencoba, membandingkan, mengontrol variabel, sampai berani menguji dugaan sendiri.
Tanpa latihan itu, teori mudah berubah jadi hafalan yang cepat hilang dan siswa hanya kuat di soal, tetapi ragu saat diminta membuktikan lewat kegiatan nyata.
Titik inilah pembelajaran berbasis praktik menjadi penting, karena sains baru terasa “hidup” ketika siswa mengalami prosesnya secara langsung, bukan sekadar membaca hasil akhirnya.
Ketika IPA Cuma Jadi Catatan
Kalau ditanya “IPA itu apa?”, kebanyakan orang akan menjawab ‘pelajaran tentang alam, tentang energi, tentang benda, tentang tubuh, tentang planet’.
Jawaban itu tidak salah. Tapi ada satu bagian yang sering luput ‘IPA bukan hanya apa yang dipelajari, tetapi juga cara mempelajarinya’.
Dalam riset yang menjadi dasar artikel ini (terbit di Jurnal Inovasi Pendidikan IPA), peneliti menegaskan bahwa IPA tidak hanya dipandang sebagai kumpulan konsep, melainkan juga proses ilmiah yang melibatkan langkah-langkah seperti observasi hingga mengomunikasikan hasil.
Masalahnya, proses ini sering tidak benar-benar dilatih. Kelas berjalan rapi dari guru menjelaskan, siswa mencatat, lalu mengerjakan soal.
Hasilnya juga terlihat “baik” di permukaan nilai ulangan bisa saja aman. Namun, ketika siswa diminta melakukan hal-hal yang sebenarnya inti dari sains mengamati teliti, memprediksi, mengolah data, menyusun dugaan, lalu membuktikan baru terlihat bahwa banyak yang belum terbiasa.
Yang dimaksud “keterampilan proses sains” di sini bukan hal yang rumit bagi pembaca umum. Sederhananya, ini adalah kemampuan yang membuat siswa benar-benar “bisa sains”, seperti:
- Mengobservasi: mengumpulkan informasi lewat indera, melihat perbedaan, mengenali ciri objek (bentuk, warna, ukuran, tekstur);
- Mengklasifikasi: mengelompokkan objek berdasarkan ciri, menemukan persamaan–perbedaan, menyusun sistem klasifikasi;
- Memprediksi: mengira apa yang mungkin terjadi berdasarkan fakta, pola, dan pengalaman;
- Menarik kesimpulan: menyimpulkan berdasarkan data, mengaitkan hasil dengan teori.
Ada juga keterampilan yang lebih “level lanjut”, tetapi justru penting ketika siswa melakukan eksperimen:
- Mengontrol variabel: tahu mana yang diubah, mana yang diamati, dan mana yang harus dijaga tetap.
- Membuat hipotesis: menyusun dugaan yang bisa diuji lewat percobaan.
- Mendefinisikan secara operasional: menjelaskan bagaimana mengukur variabel dalam eksperimen
- Melakukan eksperimen: memilih desain yang sesuai, memahami keterbatasan alat, dan menjalankan prosedur aman.
Semua poin itu sulit berkembang jika pembelajaran hanya berpusat pada teori. Karena teori menguatkan “tahu”, sedangkan praktik menguatkan “bisa”.
Menariknya, riset ini juga memotret kebiasaan pembelajaran sebelumnya. Dari hasil wawancara dengan guru, peneliti mencatat kalimat langsung yang cukup menohok “guru jarang atau bahkan hampir tidak pernah menggunakan model pembelajaran berbasis discovery learning”.
Akibatnya, siswa belum terbiasa dengan pembelajaran yang menuntut mereka aktif; mereka lebih sering menerima materi secara langsung lewat ceramah.
Inilah akar dari pertanyaan besar artikel ini. Kenapa pembelajaran sains tak cukup hanya teori?
Karena tanpa pengalaman langsung, siswa tidak punya “jam terbang” untuk menjalankan proses sains yang sesungguhnya.
Praktikum yang Membuat Sains “Masuk” Belajar Menemukan, Bukan Menunggu Jawaban
Bagian paling menarik dari riset ini bukan sekadar menyatakan masalah, tetapi menawarkan cara mengajar yang membuat siswa terlibat.
Penelitian ini menguji pembelajaran IPA yang memakai discovery learning dan dihubungkan dengan objek yang dekat dengan kehidupan siswa, yaitu jajanan lokal daerah.
Kalau istilah “discovery learning” terdengar berat, anggap saja ini seperti metode “menemukan sendiri”. Guru tidak hanya memberi jawaban, tetapi memancing siswa untuk:
- tertarik pada masalah,
- mengamati,
- mengumpulkan informasi,
- mencoba,
- lalu menyimpulkan.
Riset ini dilakukan di SMPN 1 Cangkringan, dengan 32 siswa kelas VIII A.
Pembelajaran diamati lewat lembar observasi yang diisi observer setiap pertemuan untuk melihat peningkatan keterampilan proses sains.
Kenapa “objek dekat” seperti jajanan lokal penting?
Karena siswa lebih mudah fokus ketika yang diamati bukan sesuatu yang jauh, abstrak, atau hanya gambar buku.
Objek yang dikenal membuat mereka cepat memulai mereka bisa melihat, menyentuh, membandingkan, dan berdiskusi dengan lebih hidup.
Riset ini memang menyebut pembelajaran discovery learning yang “terintegrasi jajanan lokal daerah” sebagai bagian dari strategi.
Bukti paling sederhana: nilai keterampilan naik dari pertemuan 1 ke pertemuan 2
Di bagian hasil, riset ini menampilkan data pengamatan keterampilan proses sains dasar dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua dan peningkatannya terlihat jelas.
Contoh yang paling “dramatis” adalah aspek memprediksi:
Pertemuan 1: rerata 1,75 (kategori sangat kurang)
Pertemuan 2: rerata 3,75 (kategori sangat baik)
Ini bukan sekadar angka. Artinya, setelah dibiasakan belajar dengan cara menemukan, siswa lebih mampu memperkirakan apa yang akan terjadi berdasarkan pola dan fakta bukan sekadar menebak.
Aspek lain juga naik:
- Mengobservasi: 3,00 (baik) → 4,00 (sangat baik)
- Mengklasifikasi: 2,5625 (baik) → 3,8125 (sangat baik)
- Menarik kesimpulan: 2,3125 (kurang) → 3,5625 (sangat baik)
- Mengomunikasikan: 2,8125 (baik) → 3,5 (sangat baik)
Riset ini juga menegaskan secara naratif bahwa ada “peningkatan yang signifikan” pada kelima aspek keterampilan proses sains dasar yang diukur antara pertemuan pertama dan kedua.
Kenapa ini bisa terjadi?
Karena siswa benar-benar melakukan aktivitas sains. Dalam proses penemuan, siswa melakukan serangkaian kegiatan seperti mengamati, mengukur, memprediksi, menganalisis, dan menyimpulkan. Kalau diterjemahkan ke bahasa kelas: siswa tidak hanya menerima hasil, tetapi ikut membangun pemahaman.
Dan ada satu kalimat yang sangat cocok untuk pembaca umum sekaligus menguatkan “nilai” pembelajaran ini “Keterampilan proses sains tidak hanya mampu mendorong siswa untuk menemukan konsep, tetapi juga mampu mendorong siswa untuk berpikir kritis.”
Praktikum yang baik bukan sekadar “coba-coba”
Di lapangan, praktikum sering gagal karena cuma menjadi rutinitas siswa mengikuti langkah, menyalin hasil, lalu selesai. Yang diuji riset ini bukan “kegiatan praktikum” yang asal berjalan, tetapi praktik yang mendorong siswa berpikir.
Itu terlihat dari indikator keterampilan terintegrasi seperti mengontrol variabel dan menyusun hipotesis.
Riset menjelaskan bahwa mengontrol variabel berarti mengenali variabel bebas, terikat, kontrol, lalu menjaga variabel lain tetap saat melakukan manipulasi pada variabel bebas.
Ini adalah keterampilan yang hampir mustahil dikuatkan hanya lewat ceramah.
Begitu pula hipotesis: bukan sekadar “dugaan”, tetapi dugaan yang bisa diuji lewat eksperimen.
Artinya, siswa belajar membuat dugaan dengan alasan, lalu menyiapkan cara membuktikannya.
Di sinilah sains menjadi “masuk”. Siswa tidak dipaksa percaya pada buku. Mereka belajar percaya pada data dan proses.
IPA Akan Lebih Kuat Jika Kelas Memberi Ruang untuk Membuktikan
Riset ini menyimpulkan dengan terang bahwa model pembelajaran discovery learning terintegrasi jajanan lokal daerah efektif meningkatkan keterampilan proses sains baik yang dasar maupun yang terintegrasi.
Ada juga temuan yang penting untuk pembaca umum: banyak guru jarang memakai pembelajaran berbasis penemuan sehingga siswa belum terbiasa aktif.
Ini bukan menyalahkan guru lebih tepatnya ini menunjukkan bahwa perubahan metode butuh dukungan: desain pembelajaran, LKPD yang jelas, pembagian kelompok yang rapi, serta suasana kelas yang mendorong siswa berani mencoba.
Riset ini juga menyebut kendala-kendala yang biasa muncul dalam pembelajaran berbasis penemuan, seperti efektivitas waktu, pembagian kelompok diskusi, dan motivasi belajar siswa.
Namun, kendala itu bisa diatasi dengan menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan agar siswa termotivasi dan tidak banyak membuang waktu.
Penulis: Bima Satria D. W
Editor: Nabila Wulyandini












![IMG-20250805-WA0010[2] wisudawan berprestasi](https://ipa.umsida.ac.id/wp-content/uploads/2025/08/IMG-20250805-WA00102-scaled-e1754440736916-150x150.jpg)





