ipa.umsida.ac.id — Mitos kesehatan sering bertahan lebih lama daripada penjelasan ilmiah. Salah satu yang paling akrab di telinga masyarakat adalah anggapan bahwa mandi malam bisa menyebabkan rematik.
Kalimat ini begitu sering diulang dalam kehidupan sehari-hari sampai terdengar seperti fakta.
Padahal, sains memberi penjelasan yang jauh lebih spesifik: mandi malam tidak terbukti menjadi penyebab rematik.
Kebingungan biasanya muncul karena istilah “rematik” di masyarakat dipakai sangat longgar.
Banyak orang menyebut pegal, linu, nyeri sendi, atau rasa kaku setelah terkena dingin sebagai rematik.
Dalam dunia medis, kondisi yang sering dikaitkan dengan “rematik” bisa merujuk pada berbagai penyakit, termasuk rheumatoid arthritis, osteoarthritis, atau gangguan sendi lain.
Rheumatoid arthritis sendiri merupakan penyakit autoimun, yakni ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sendi dan menyebabkan nyeri, bengkak, serta kekakuan.
Penyebabnya bukan karena air dingin atau mandi pada malam hari.
Artinya, jika seseorang mandi malam lalu merasa tubuhnya pegal atau sendinya lebih kaku, itu tidak otomatis berarti ia “kena rematik”.
Yang lebih mungkin terjadi adalah tubuh bereaksi terhadap suhu dingin, otot menjadi tegang, atau keluhan sendi yang memang sudah ada terasa lebih jelas.
Banyak orang dengan arthritis melaporkan bahwa cuaca dingin, lembap, atau perubahan tekanan udara dapat membuat nyeri dan kekakuan terasa lebih berat, tetapi itu berbeda dari mengatakan bahwa dingin menciptakan penyakit rematik dari nol.
Bukti ilmiah justru menunjukkan hubungan cuaca dengan nyeri sendi belum sepenuhnya konsisten, meski keluhan subjektif memang sering dilaporkan.
Mengapa Mitos Mandi Malam Bikin Rematik Terus Dipercaya?
Ada alasan mengapa mitos mandi malam dan rematik tetap hidup. Pengalaman sehari-hari terasa sangat meyakinkan.
Seseorang mandi malam, lalu keesokan harinya bangun dengan badan tidak nyaman, lutut terasa ngilu, atau jari-jari lebih kaku.
Otak manusia cenderung langsung menghubungkan dua peristiwa yang berdekatan sebagai sebab-akibat.
Padahal, nyeri sendi bisa dipengaruhi banyak hal lain: aktivitas berat, kurang tidur, postur tubuh, kelelahan, berat badan, riwayat cedera, hingga penyakit sendi yang memang sudah berkembang perlahan.
Pada rheumatoid arthritis, faktor risiko yang dikenal justru meliputi sistem imun, faktor genetik atau riwayat keluarga, kebiasaan merokok, serta faktor usia dan jenis kelamin tertentu.
Pada osteoarthritis, risiko berkaitan dengan perubahan jaringan sendi, bertambahnya usia, cedera, atau beban berulang pada sendi.
Tidak ada daftar faktor risiko utama yang menempatkan mandi malam sebagai penyebab.
Selain itu, ada kondisi lain yang membuat orang makin yakin terhadap mitos ini.
Paparan dingin memang dapat memicu gangguan tertentu seperti Raynaud’s phenomenon, yaitu ketika aliran darah ke jari tangan atau kaki berkurang sementara sehingga bagian tersebut terasa dingin, kebas, nyeri, atau berubah warna.
Namun, ini juga bukan rematik. Jadi, rasa tidak nyaman setelah terkena dingin bisa nyata dirasakan tubuh, tetapi penyebab medisnya berbeda dari anggapan populer yang menyebut semua nyeri sebagai rematik.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan?
Sikap yang lebih masuk akal bukan sekadar mempercayai atau menolak mitos, melainkan memahami tubuh secara tepat.
Mandi malam pada dasarnya aman bagi banyak orang, terutama jika tubuh segera dikeringkan, suhu air tidak terlalu ekstrem, dan kondisi badan memang fit.
Namun, bagi orang yang sudah memiliki masalah sendi, paparan dingin mungkin membuat keluhan terasa lebih mengganggu. Itu berarti dingin dapat menjadi pemicu rasa tidak nyaman, bukan penyebab utama penyakit.
Yang lebih penting adalah mengenali tanda bahaya. Jika nyeri sendi disertai bengkak, hangat, sulit digerakkan, berulang terus, atau muncul kekakuan lebih dari 30 menit setelah bangun tidur, keluhan itu layak diperiksa tenaga kesehatan.
Begitu juga bila nyeri mengganggu aktivitas, tidur, atau tidak membaik setelah dua minggu perawatan mandiri.
Pada kondisi seperti ini, menempelkan label “cuma karena mandi malam” justru berisiko menunda diagnosis yang seharusnya ditangani lebih awal.
Kesimpulannya jelas: mandi malam tidak terbukti menyebabkan rematik. Mitos ini bertahan karena istilah rematik sering dipakai terlalu umum dan karena sensasi dingin memang bisa membuat tubuh terasa lebih kaku.
Sains mengajak kita lebih teliti membedakan mana penyebab penyakit, mana sekadar pemicu keluhan, dan mana hanya kebetulan yang diwariskan menjadi kepercayaan turun-temurun.
Dalam urusan kesehatan sehari-hari, penjelasan yang tepat jauh lebih berguna daripada mitos yang terdengar meyakinkan.
Penulis: Nabila Wulyandini












![IMG-20250805-WA0010[2] wisudawan berprestasi](https://ipa.umsida.ac.id/wp-content/uploads/2025/08/IMG-20250805-WA00102-scaled-e1754440736916-150x150.jpg)





