ipa.umsida.ac.id – Rizkia Fitri Radityo SSi MSi, Laboran IPA Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), turut mengembangkan Rancang Bangun Alat Pengering Sistem Gantung dengan Kontrol Suhu Otomatis melalui program Karya Inovasi Laboran (KILAB) 2026.
Dalam pengembangan tersebut, Rizkia berkolaborasi dengan Kintan Sari Kinanti STP, Laboran Teknologi Pangan. Karya mereka menjadi salah satu dari tiga inovasi laboran Umsida yang memperoleh hibah KILAB 2026 dan dipresentasikan dalam kegiatan Diseminasi KILAB 2026 di Ruang Rapat Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Kampus 2 Umsida, Rabu (12/8/2026).
Inovasi ini berangkat dari persoalan nyata yang ditemukan dalam aktivitas laboratorium, khususnya proses pengeringan bahan yang selama ini dinilai belum memberikan hasil maksimal.
Berawal dari Kendala Pengeringan di Laboratorium
Rizkia menjelaskan, gagasan pembuatan alat awalnya muncul dari pengalaman Laboran Teknologi Pangan ketika menghadapi kendala pada proses pengeringan bahan.
Menurutnya, kondisi tersebut kemudian mendorong tim mencari metode pengeringan berbeda dengan menggunakan sistem gantung serta menambahkan kontrol suhu otomatis.
“Ide ini muncul dari Laboran Teknologi Pangan yang mengalami kendala pada hasil pengeringan yang kurang maksimal. Dari situ dilakukan inovasi dengan metode yang berbeda, yakni sistem gantung dan penambahan kontrol suhu otomatis. Harapannya, alat ini dapat menjawab permasalahan pengeringan yang selama ini terjadi,” ujar Rizkia.
Sistem gantung dipilih karena memungkinkan bahan memperoleh kontak dengan udara panas secara lebih luas. Kondisi tersebut diharapkan membantu proses pengeringan berlangsung lebih merata.
Rizkia mengatakan, alat tersebut memiliki beberapa keunggulan dibandingkan proses pengeringan yang sebelumnya digunakan.
“Sirkulasi udara menjadi lebih merata karena sistem gantung membuat luas kontak antara udara panas dengan sampel lebih besar. Kontrol suhu otomatis juga membantu menjaga kualitas bahan, sehingga proses pengeringan dapat berlangsung lebih cepat dan efektif,” jelasnya.
Rizkia Terlibat dari Perancangan hingga Uji Alat
Dalam tim KILAB 2026, keterlibatan Rizkia tidak hanya pada tahap penyusunan proposal. Sebagai Laboran IPA, ia ikut berperan sejak proses perancangan hingga pengujian alat.
“Saya sebagai Laboran IPA turut dalam proses perancangan alat serta saat uji alat dilakukan. Saya juga aktif dalam pengerjaan luaran dari program KILAB ini,” ungkap Rizkia.
Menurutnya, keberadaan alat pengering gantung tersebut berpotensi mendukung berbagai aktivitas akademik. Pemanfaatannya tidak hanya terbatas pada praktikum, tetapi juga dapat digunakan dalam kegiatan penelitian dosen maupun tenaga pendidikan lainnya.
Bahkan, alat tersebut membuka peluang untuk digunakan mahasiswa Pendidikan IPA dalam kegiatan berbasis proyek, terutama yang berkaitan dengan pemanfaatan bahan alam.
“Alat ini sangat membantu dalam proses praktikum, terutama ketika membutuhkan proses pengeringan. Begitu juga untuk penelitian dosen maupun tenaga pendidikan lainnya. Tidak menutup kemungkinan nantinya mahasiswa Pendidikan IPA dapat menggunakan alat ini dalam proyek-proyek terkait pemanfaatan bahan alam,” terangnya.
Dengan demikian, inovasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan persoalan teknis laboratorium, tetapi juga mendukung aktivitas pembelajaran dan penelitian.
Trial and Error Perkuat Kolaborasi Lintas Laboran
Proses pengembangan alat tidak berjalan tanpa kendala. Rizkia mengungkapkan, tantangan terbesar justru muncul pada tahapan teknis, terutama selama proses fabrikasi dan uji coba.
Tim harus menjalani sejumlah proses trial and error hingga alat dapat bekerja sesuai kebutuhan.
“Tantangannya lebih pada teknis trial and error. Saat fabrikasi berlangsung ada beberapa kendala tertentu, sehingga tim kami juga berkolaborasi dengan laboran lain di Fakultas Sains dan Teknologi,” katanya.
Menurut Rizkia, kendala tersebut justru menghasilkan dampak positif karena membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antar laboran.
“Dengan adanya kolaborasi tersebut, para laboran dapat saling memberikan masukan dan saran sehingga sinergi antarlaboran dapat terjalin dengan baik. Ini menjadi dampak positif ke depan karena pasti akan ada kolaborasi lain yang membutuhkan kerja sama laboran lintas fakultas,” jelasnya.
Bagi Rizkia, KILAB 2026 akhirnya tidak hanya menjadi ruang menghasilkan sebuah alat, tetapi juga mempertemukan kompetensi laboran dari berbagai bidang. Kolaborasi tersebut menjadi penting karena permasalahan di laboratorium tidak selalu dapat diselesaikan oleh satu bidang keilmuan saja.
Melalui pengembangan alat pengering sistem gantung dengan kontrol suhu otomatis, Rizkia bersama tim berharap inovasi yang lahir dari kebutuhan laboratorium dapat memberikan manfaat nyata bagi praktikum, penelitian, serta pengembangan proyek mahasiswa di Umsida.
Penulis: Nabila Wulyandini












![IMG-20250805-WA0010[2] wisudawan berprestasi](https://ipa.umsida.ac.id/wp-content/uploads/2025/08/IMG-20250805-WA00102-scaled-e1754440736916-150x150.jpg)



