ipa.umsida.ac.id – Program Studi Pendidikan IPA Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar kuliah umum bertajuk “Grow to Inspire: Menjadi Mahasiswa, Pendidik, dan Profesional yang Terus Berkembang” pada Rabu (22/7/2026).
Kegiatan berlangsung di Ruang 609–610, Gedung Kuliah Bersama 7, Kampus 3 Umsida, dengan menghadirkan M. Thariq Aziz, M.Pd.I. dari Universitas Muhammadiyah Sukabumi dan Fitria Eka Wulandari, S.Si., M.Pd. dari Umsida.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami bahwa perkembangan diri tidak hanya bergantung pada kemampuan awal, tetapi juga pola pikir, kemauan belajar, ketekunan, keberanian menghadapi tantangan, serta konsistensi dalam menjalani proses untuk terus tumbuh dan menginspirasi bagi orang lain.
Growth Mindset Membuka Ruang Perkembangan
M. Thariq Aziz menjelaskan pentingnya growth mindset atau pola pikir bertumbuh. Pola pikir tersebut memandang kecerdasan, bakat, dan kemampuan bukan sebagai sesuatu yang tetap, melainkan dapat dikembangkan melalui pengalaman, latihan, strategi yang tepat, dan pembelajaran berkelanjutan.
“Pola pikir bukan label kepribadian. Ia adalah lensa penafsiran yang dapat berubah menurut situasi,” tegasnya.
Ia juga mengenalkan neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk beradaptasi dan berubah berdasarkan pengalaman serta latihan sepanjang hayat.
Proses belajar akan memperkuat hubungan antarneuron sehingga kemampuan seseorang dapat terus berkembang seiring waktu.
Kesulitan dan kesalahan, lanjutnya, tidak seharusnya langsung dipahami sebagai bukti ketidakmampuan.
Keduanya merupakan bagian alami dari pembelajaran sekaligus tanda bahwa seseorang sedang beradaptasi dengan tantangan baru.
Mahasiswa didorong tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga menghargai usaha, menerima umpan balik, mengevaluasi strategi, dan membangun konsistensi.
Dengan pola tersebut, mereka akan lebih tangguh menghadapi kegagalan dan tidak mudah berhenti ketika menemui hambatan.
Menurutnya, perubahan pola pikir perlu diwujudkan dalam kebiasaan belajar yang nyata.
Mahasiswa perlu berani mencoba pendekatan baru, meminta bantuan ketika mengalami kesulitan, serta menjadikan kritik sebagai bahan perbaikan.
Sikap tersebut membantu mereka mengenali potensi, memperluas kemampuan, dan membangun kepercayaan diri.
Dengan demikian, proses pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga membentuk pribadi pembelajar sepanjang hayat yang adaptif dan reflektif.
Pengalaman Belajar Menjadi Bekal Calon Guru IPA
Fitria Eka Wulandari mengajak peserta merefleksikan pengalaman saat mempelajari IPA, terutama ketika mengikuti praktikum atau menghadapi materi yang dianggap sulit.
Mahasiswa diminta melihat apa yang terjadi, perasaan yang muncul, tindakan guru, serta respons mereka setelah pengalaman tersebut.
“Pada sesi ini kita tidak sedang menguji siapa yang paling pintar. Kita akan belajar dari pengalaman masing-masing. Setiap pengalaman memiliki nilai yang dapat menjadi bekal kita sebagai calon guru IPA,” katanya. fileciteturn0file1
Menurut Fitria, refleksi penting karena pola pikir memengaruhi cara seseorang memandang situasi dan menghadapi masalah.
Calon guru perlu menyadari bahwa respons pendidik dapat membentuk keberanian, rasa aman, dan kemauan siswa untuk mencoba kembali.
Karena itu, pembelajaran IPA tidak cukup menekankan penguasaan konsep.
Guru juga perlu membangun kelas yang menghargai proses, memberi ruang untuk bertanya, dan menjadikan kesalahan sebagai kesempatan memperbaiki strategi.
Tumbuh untuk Memberi Inspirasi
Melalui kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan menerapkan growth mindset dalam perkuliahan, organisasi, praktik mengajar, dan pengembangan karier.
Pertumbuhan bukan tuntutan untuk selalu sempurna, melainkan kesediaan melakukan perbaikan secara konsisten.
Mahasiswa juga didorong membangun kebiasaan positif, menggunakan kritik sebagai bahan evaluasi, serta fokus pada sistem belajar jangka panjang.
Langkah kecil yang dilakukan terus-menerus dinilai lebih bermakna dibandingkan target besar tanpa proses terarah.
Pesan “grow to inspire” menegaskan bahwa perkembangan diri tidak berhenti pada kepentingan pribadi.
Mahasiswa yang terus belajar diharapkan menjadi pendidik dan profesional yang kompeten serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, memotivasi, dan menginspirasi orang lain untuk berkembang.
Selain itu, mahasiswa perlu memahami bahwa kemampuan berkembang melalui latihan, refleksi, dan keberanian keluar dari zona nyaman.
Mereka diharapkan mampu menetapkan tujuan yang realistis, memantau kemajuan, serta memperbaiki strategi ketika hasil belum sesuai harapan.
Dalam konteks pendidikan, pola pikir ini penting agar calon guru tidak mudah memberi label pada kemampuan siswa.
Sebaliknya, mereka perlu memberikan dukungan, kesempatan mencoba, dan umpan balik yang membangun sehingga setiap peserta didik merasa mampu belajar, bertumbuh, dan mencapai potensi terbaiknya secara berkelanjutan di masa depan.
Penulis: Nabila Wulyandini












![IMG-20250805-WA0010[2] wisudawan berprestasi](https://ipa.umsida.ac.id/wp-content/uploads/2025/08/IMG-20250805-WA00102-scaled-e1754440736916-150x150.jpg)




